Burung Jenjang Mahkota Hitam Asal Afrika Barat Lahir di TSI II Prigen

Dua ekor burung asal Afrika Barat yang lahir di TSI II Prigen. (Foto: Arie Yoenianto)
Dua ekor burung asal Afrika Barat yang lahir di TSI II Prigen. (Foto: Arie Yoenianto)

PASURUANTIMES – Ini kabar gembira bagi pecinta satwa langka. Lembaga konservasi Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen Kabupaten Pasuruan berhasil mengembangkan biakkan satwa langka jenis Burung Crowned Crane atau Jenjang Mahkota Hitam.

Dua ekor burung dengan nama latin Balearica pavonina ini menjadi pelengkap koleksi satwa baru di Taman Safari Prigen. Satwa asal Afrika Barat ini menetas dengan cara dieramkan di inkubator khusus. 

Public Relation Officer Taman Safari Prigen, Lely Widya Arishandi mengatakan, dua ekor crowned crane tersebut lahir pada 16 Februari 2018. Burung itu berjenis kelamin jantan dan betina. Sesuai data dari International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), Burung Crowned Crane berstatus Vulnerable (rentan).

“Dua ekor Crowned Crane ini bernama Tuareg dan Hamer. Keduanya berasal dari indukan Zaskia dan Diono, sehingga total Crowned Crane di Taman Safari Prigen saat ini menjadi sembilan ekor,” kata Lely Widya Arishandi.

Menurut Lely Widya, Crowned Crane merupakan satwa omnivora. Mereka mengkonsumsi segala macam makanan mulai dari biji-bijian, serangga dan binatang kecil lainnya. Namun, untuk bayi Crowned Crane diberikan makanan khusus.

“Tuareg dan Hamer diberi makan sayuran seperti sawi, kecambah maupun wortel serta ditambah dengan ulat. Dalam sehari mereka makan hingga tujuh kali karena masih dalam masa pertumbuhan,” jelas Lely Widya.

Sementara itu, Dokter Hewan Taman Safari Prigen, drh Nanang menyampaikan, Burung Crowned Crane memiliki bulu berwarna hitam dengan warna putih jelas di bagian atas dan bawah sayap. Di atas kepala terdapat jambul atau bulu kaku yang berwarna keemasan menyerupai sebuah mahkota.

“Di bagian pipi terdapat tonjolan berwarna merah dan putih. Memiliki panjang tubuh dari ekor sekitar 100-105 cm, dengan bentang sayap mencapai 200 cm dan berat 3-4 kg. Umumnya jantan memiliki tubuh yang relatif lebih besar dari pada betina. Namun demikian sangat sulit untuk membedakan antara burung yang jantan dan betina,” kata drh Nanang.

Pewarta : Arie Yoenianto
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Pasuruan TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pasuruantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pasuruantimes.com | marketing[at]pasuruantimes.com
Top