Dari Aru Palakka sampai Diponegoro: Nazar Rambut Gundul Ternyata Sudah Ada Sejak Dulu

Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

PASURUANTIMES, MALANG – Kita, mungkin, terbiasa kini melihat para politikus atau pendukungnya beramai-ramai menggundulkan kepalanya setelah jagonya memenangkan perebutan kursi dari lawan politiknya. Rambut yang biasanya menghiasi kepala dipangkas habis sampai gundul dikarenakan nazar atas kemenangan tersebut. 

Nazar menggunduli kepala yang sempat menjadi tren, khususnya di dunia politik kita, ternyata telah juga dilakukan sejak abad ke-17 lampau. Tentunya,  saat orang-orang di abad niaga tersebut menggunduli kepalanya sendiri,  ada sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya. 

Pasalnya,  di abad ke-17, kata sejarawan kelahiran Selandia Baru Anthony Reid dalam karya tulis berjudul Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, memotong rambut lebih nerupakan pengorbanan. 

Di masa itu,  laki-laki dan perempuan Asia Tenggara sangat menghargai rambutnya seperti mereka mengagungkan kepala. Rambut adalah lambang dan petunjuk diri yang menentukan dalam kehidupan masyarakat saat itu. Maka, memotong rambut sampai botak  tentunya diperlukan suatu momen atau peristiwa yang sangat penting dalam hidup orang tersebut. Peristiwa yang apabila tercapai,  maka dia berjanji atau bernazar untuk melepaskan sesuatu yang berharga yang dimilikinya. 

Nazar membabat habis rambut pernah dilakukan oleh seorang raja Bone bernama Aru Palakka  tahun 1672. Saat itu kerajaan Aru Palakka diserang Makassar untuk menguasai pelayaran di Indonesia Timur dan produksi beras Sulawesi Selatan. Bernazar untuk menggunduli kepalanya apabila dirinya bisa mengalahkan Kerajaan Makassar, bekerja sama dengan kompeni, cita-cita Aru Palakka terwujud. Aru mampu menghancurkan Kerajaan Makassar. 

Maka,  Aru Palakka pun menunaikan nazarnya itu. Dia mencukur rambutnya di atas Gunung Cempalagi, Bone, Pulau Selebes (Sulawesi). 

Pangeran Diponegoro pun pernah bernazar seperti Aru Palakka,  yakni akan menggunduli kepalanya jika menang dalam peperangan melawan Belanda. Nazar Diponegoro dicatat dalam buku Sedjarah Peperangan Dipanegara: Pahlawan Kemerdekaan Indonesia yang ditulis oleh Muhammad Yamin. 

"Dipanegera pernah berjanji di Rejasa,  di kaki Gunung Merapi. Akan mencukur rambutnya menjadi gundul jika mendapat kemenangan dalam perjuangan," tulis Yamin. 

Dalam suatu peristiwa,  janji tersebut pernah dilaksanakan oleh Diponegoro beserta seluruh senapati dan pasukannya. “Setelah sembahyang Jumat, maka Dipanegara serta diturut oleh segala pahlawan, senapati dan rakyat yang setia. menggundulkan kepalanya sebagai memenuhi nazar yang telah dibuatnya. Semenjak itu maka balatentera Dipanegara memakai rambut pendek," tulis Yamin. 

Nazar memotong rambut sampai plontos ternyata bukan hanya sebuah perayaan atau seremoni saja. Apalagi hanya untuk mencari sensasi. Tapi  juga bisa dijadikan spirit untuk berjuang sampai pada titik darah terakhir. Hal ini terekam juga dalam buku S. Sulistyo Atmojo berjudul Mengenang Almarhum Panglima Besar Jenderal Soedirman, Pahlawan Besar Vol. 1.

Dalam buku tersebut, dituliskan mengenai nazar Bung Tomo pada masa perang kemerdekaan di Surabaya 10 November 1945. Bung Tomo pernah bernazar tidak akan mencukur rambut gondrongnya sebelum Indonesia benar-benar merdeka. Nazar Bung Tomo tersebut ternyata mampu menggerakkan semangat pemuda untuk berjuang dalam mengenyahkan penjajah Belanda. "Ini (nazar,  red)  menggerakkan semangat pemuda untuk mencurahkan jiwa raganya, " tulis Atmojo. (*) 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pasuruantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pasuruantimes.com | marketing[at]pasuruantimes.com
Top