Dulu Kritik Keras Jokowi, Ini Fakta Tentang Yusril Ihza Sebelum Putuskan Jadi Lawyer Jokowi-Ma'ruf

Yusril Ihza Mahendra (@yusriihzamahendra).
Yusril Ihza Mahendra (@yusriihzamahendra).

PASURUANTIMES, MALANG – Ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra kembali mengejutkan publik dengan memutuskan menjadi lawyer bagi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin. Secara resmi, pria yang juga berprofesi sebagai pengacara itu menyampaikan kabar tersebut kepada media.

Dilansir dari Detik.com, Yusril menyebut jika alasan ia bergabung menjadi lawyer Jokowi adalah lantaran ingin menjadi bagian dan memberi sumbangsih dalam kontestasi memilih presiden RI untuk periode 2019-2024. Dia juga mengatakan jika ia tidak akan dibayar sepeser pun untuk menjadi lawyer dari pasangan tersebut.

Pernyataan itu tentu mengejutkan banyak pihak. Karena sebagaimana publik ketahui selama ini, Yusril merupakan salah satu orang yang sering memberi kritik pedas dalam pemerintahan Jokowi-JK. Dalam berbagai pemberitaan dan video yang beredar di youtube, ada banyak pernyataan dari mantan Sekretaris Negara itu yang secara blak-blakan menyebut pemerintahan Jokowi belum pro rakyat.

Berikut beberapa fakta tentang pendapat Yusril Ihza Mahendra terkait pemerintahan Jokowi yang dirangkum dari berbagai media.

1. Sempat Sebut Jokowi 'Bodoh'
Pria kelahiran Lalang, Manggar, Belitung Timur itu sempat menyebut Jokowi 'bodoh'. Pernyataan itu dia sampaikan saat menghadiri program Indonesia Lawyers Club (ILC) di salah satu stasiun televisi swasta. Dalam video yang kembali diunggah channel erus herisno pada 20 Januari 2016 itu, Yusril menyerukan kata bodoh itu pada menit ke 4.33 detik.

"Luar negeri tidak tahu apa itu KPK atau Jaksa, yang tahu presidennya goblok," begitulah pernyataan yang disampaikan saat itu, meski tanpa menyebut nama Jokowi secara langsung. Namun saat itu, Jokowi sedang menduduki posisi sebagai presiden periode 2014-2019.

Pernyataan itu keluar dari mulut Yusril saat ia tengah membahas perihal kegaduhan yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan posisi KPK hingga Kepolisian. Masih dalam video yang sama, Yusril berpendapat jika seorang presiden harusnya memiliki kewibawaan. Termasuk saat menghadapi permasalahan dan kegaduhan hukum yang terjadi di Indonesia.

"Sudah cukuplah kita bereksperimen, mulai dari Gus Dur, Mega, dan Jokowi," katanya masih dalam video yang sama.

Dalam diskusi itu, pria 62 tahun itu juga berpendapat jika negeri ini harus dijalankan dengan pola pikir rasional. Kegaduhan dan perdebatan di media dia anggap sebagai kemunduran. Karena berbeda dengan negarawan dulunya, saat ini para pejabat hanya sering debat kusir di media dengan tanpa memikirkan esensi dari perkembangan sebuah bangsa.

Berikut video lengkap terkait pernyataan Yusril Ihza di ILC.
 


2. Sindir Aksi Blusukan Jokowi
Pengacara sekaligus pakar tata negara ini juga sempat menyindir aksi blusukan Jokowi beberapa saat lalu. Dalam video yang diunggah channel metronews pada 4 Desember 2013 lalu, Yusril Ihza Mahendra mengkritisi aksi blusukan Jokowi yang saat itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Pada pernyataan yang diungkapkan saat Yusril tengah akan mendeklarasikan diri sebagai calon Presiden Partai Bulan Bintang (PBB) itu, Yusril menyampaikan jika permasalahan negara tidak akan selesai hanya dengan blusukan.

"Blusukan sana, blusukan sini, senyum sana, senyum sini. Apakah permasalahan selesai dengan blusukan?," begitulah kurang lebih pernyataan yang dilontarkan Yusril.


3. Tolak Masuknya TKA 
Yusril juga termasuk tokoh yang sangat lantang menentang kehadiran tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia. Dalam video yang diunggah channel Tribunnews.com pada 1 Mei 2018 lalu, tampak Yusril tengah ikut berorasi dalam sebuah aksi yang dilakukan saat terik matahari menyengat. Video dengan judul Saat TKA Masuk Indonesia, Yusril: Presiden Jokowi Harusnya Pedulikan Nasib Rakyat' itu, Yusril berjanji kepada para massa yang hadir di depannya untuk membawa permasalahan TKA ke hukum nasional. Karena hal tersebut ia nilai sangat tidak pro rakyat.

"Presiden semestinya berpihak kepada rakyat. Bukan kepasa pemodal dan rakyat asing," katanya.

4. Jokowi Gunakan Pancasila Untuk Tekan Lawan
Kepemimpinan Jokowi juga sempat disebut Yusril telah memanfaatkan Pancasila sebagai alat untuk menekan lawan politiknya. Pria 62 tahun itu menyebut, kepemimpinan Jokowi memanfaatkan Pancasila untuk mempertahankan kekuasaan politiknya dengan menuduh orang lain anti Pancasila.

"Pemerintah sekarang membuat Pancasila sebagai alat untuk menekan lawan. Pak Jokowi lakukan hal yang sama dengan Soekarno dan Soeharto," jelasnya.


 

 

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pasuruantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pasuruantimes.com | marketing[at]pasuruantimes.com
Top