Asosiasi Pengolah Limbah Plastik Minta Diberikan Kemudahan dan Insentif

Seminar Standar terbaru perizinan usaha daur ulang plastik.
Seminar Standar terbaru perizinan usaha daur ulang plastik.

PASURUANTIMES – Pelaku usaha pengolahan limbah plastik meminta pemerintah memberikan kemudahan fasilitas perizinan dan insentif. Dukungan ini diharapkan menjadi pemacu bagi pelaku usaha yang justru membantu upaya pelestarian lingkungan.

Para pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi), selama ini dihadapkan pada rumitnya perizinan, terutama menyangkut pengolahan air limbah. Sementara, para penggiling limbah plastik ini termasuk kategori pelaku UMKM.

“Kami mengharapkan ada kemudahan perizinan dalam pengelolaan air limbah. Usaha penggilingan limbah plastik adalah kelompok usaha kecil. Sehingga sistem pengolahan Ipal bisa dilakukan dengan cara yang sederhana,” kata Christine Halim, Ketua Adupi usai Seminar Standar Terbaru Usaha Daur Ulang Plastik.

Menurut Christine, usaha daur ulang plastik ini pada prinsipnya adalah pengolahan sampah masyarakat yang ramah lingkungan. Selain itu, usaha ini sekaligus sebagai upaya pelestarian lingkungan terhadap sampah yang sulit terurai dengan tanah.

“Insentif bagi pelaku usaha daur ulang ini layak diberikan pemerintah, seperti kemudahan fasilitas usaha, tax holiday dan reward. Usaha ini tidak semata profit oriented, tetapi sebagai upaya pelestarian lingkungan,” tandasnya.

Menurut Fauzi, staf Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Jatim, proses perizinan yang dibutuhkan tidaklah serumit yang dibayangkan. Para pelaku usaha ini bisa membuat pola sendiri tentang instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

“Setiap usaha diwajibkan adanya IPAL jika dalam kategori besar. Namun bagi pelaku UMKM, cukup dengan Surat Penyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) yang bentuknya bisa dimodifikasi,” jelas Fauzi.

Sementara itu, April, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia menyatakan perlunya ada edukasi masyarakat tentang penggunaan dan pengelolaan sampah plastik. Terbitnya Surat Edaran (SE) Gubernur Jatim tentang pengurangan penggunaan kantong plastik bukan menjadi solusi bagi masyarakat dan pelaku usaha ritel.

“Sampah plastik itu tidak hanya berasal dari kantong plastik yang dipergunakan pengusaha ritel. Tetapi juga berasal dari kemasan produk modern dan tradisional yang sampai saat ini belum ada penggantinya,” kata April.

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat seharusnya lebih di kedepankan agar upaya penyelamatan lingkungan bisa dilakukan secara bersama. Masyarakat dan customer layak diberikan reward jika mengembalikan sampah kantong plastik yang didapat dari tempat ia berbelanja.

Pewarta : Arisandi Pasuruantimes
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Pasuruan TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pasuruantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pasuruantimes.com | marketing[at]pasuruantimes.com
Top