Tujuh Negara Ini Sengaja Tidak Merayakan Natal

Ilustrasi (YtCrash)
Ilustrasi (YtCrash)

PASURUANTIMES, MALANG – Natal sebagai hari raya agama Kristen  diperingati setiap tahun pada tanggal 25 Desember. Namun, ternyata tidak semua negara merayakan Hari Raya Natal.

 Negara-negara itu memang sengaja tidak merayakan Natal. Bahkan tidak menjadikan Natal sebagai hari besar. Inilah negara-negara tersebut.

1. Maladewa

Terkenal dengan pantai yang jernih dan kebiruan, Maladewa masuk sebagai salah satu negara yang tidak merayakan Natal. Sebab, mayoritas warga Maladewa merupakan seorang muslim.  Bahkan persentase jumlah warga muslim  hampir 90 persen.

Sementara, mereka yang beragama Kristen menjadi minoritas di negara tersebut. Sehingga. Natal tidak menjadi hari besar di Maladewa.

Meski begitu, di sana masih terdapat guest house atau resort yang menyajikan desain-desain hiasan atau ornamen bertema Natal. Hal itu merupakan upaya menyenangkan para tamu yang menginap di hotel mereka sekaligus sebagai persiapan tahun baru.

2. Jepang

 Jepang memang cukup unik. Sebab, daripada merayakan Natal sebagai hari raya keagamaan, Jepang lebih memilih merayakan Natal sebagai hari kasih sayang seperti halnya Hari Valentine.

Meskipun pemerintah dan penduduknya campur tangan dan menghias kotanya dengan ornamen hiasan Natal, Natal tetap saja bukan perayaan yang besar di Jepang.

Biasanya saat malam perayaan Natal, tepat  24 Desember, penduduk Jepang dan keluarganya lebih memilih menghabiskan waktu untuk makan malam dan menginap di hotel. Cara tersebut mereka lakukan untuk membahagiakan orang-orang yang dikasihi.

3. China

Tidak ada yang berbeda antara Natal dengan hari lainnya di Cina. Baik di sekolah, kantor, toko dan tempat lainnya, mereka tetap beraktivitas seperti biasanya.

Natal bukan menjadi hari raya keagamaan, apalagi hari libur nasional, di China. Natal di Negeri Tirai Bambu hanya menjadi istimewa karena pusat perbelanjaan dan restoran dipenuhi diskon. Jadi, Natal bukan menjadi hari raya agama, melainkan sebagai hari belanja tersebesar di China.

Populasi warga penganut agama Kristen sendiri di China memang minoritas. Bahkan dalam persentase, warga Kristen hanya sekitar 1 persen dari seluruh penduduk China.

4. Korea Utara

Sejak tahun 1948, pemerintah Korea Utara menindak kebebasan beragama. Sejak saat itu pula, Natal tidak dirayakan secara terbuka di tempat-tempat umum.

Sebenarnya konstitusi di Korea Utara mengizinkan warganya untuk memilih agama. Tetapi, siapa yang ketahuan merayakannya di depan umum bisa berujung penjara baginya.

Tahun 2016 silam, sang penguasa Korea Utara Kim Jong Un bahkan melarang Natal untuk dirayakan di Korea Utara. Sebaliknya justru dia mengharuskan warganya untuk melalukan penghormatan kepada neneknya, yakni Kim Jong Suk yang lahir tepat pada 24 Desember 1917.

5. Mongolia

Mongolia adalah negara dengan beragam tradisi kuno. Tradisi berburu dengan elang misalnya. Saking populernya, tradisi Ini akhirnya justru menjadi sebuah perlombaan dan sebuah atraksi wisata.

Tapi jangan berharap bisa menemukan perayaan Natal di negara ini sebagai salah satu budaya kuno. Sebab, negara ini merupakan negara resmi yang menganut agama Buddha dan mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha.

Saat perayaan Natal pun, jangan berharap untuk menemukan keramaian dan ornamen Natal yang begitu gemerlap. Yang ada, meskipun tepat dalam perayaan Natal, sama seperti hari-hari biasanya, orang-orang tetap beraktivitas seperti biasa.

Tetapi berbeda dengan tahun baru Imlek. Di Mongolia, Anda bisa menemukan berbagai macam ornamen hiasan Imlek di jalannan dengan berbagai macam pesta meriah, mulai dari pesta makan hingga kembang api.

6. Maroko

Maroko merupakan negara dengan minoritas penganut agama Kristen. Di negara tersebut, mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Jadi, negara tersebut memang tidak merayakan Natal sebagai hari besar keagamaan.

Hal ini juga terjadi akibat pengaruh dari Spanyol dan Prancis saat melakukan penjajahan pada tahun 1800-an.

Namun tak usah bersedih. Meski tidak menemukan gemerlap lampu Natal, ada sebuah daerah bernama Marrakesh yang menyalakan lentera indah menghibur warga Kristen.

7. Mesir

Natal di Mesir hanya dirayakan sekitar 15 persen penduduk yang beragama Kristen atau biasa disebut Kristen Ortodhok Copthick Alexandria.

Hanya, perayaan Natal di Mesir berbeda dengan perayaaan Natal umumnya. Natal di sini tidak dirayakan pada bulan Desember dan hanya dirayakan sekadarnya.

Sama seperti dengan penganut Kristen Orthodok lainnya, seperti Serbia dan Rusia, perayaan Natal di Mesir baru akan dilakukan pada 7 Januari seperti pada kalender Julian Kuno. 
 

Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pasuruantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pasuruantimes.com | marketing[at]pasuruantimes.com
Top