Buka Lowongan Kerja Fiktif, 650 Perawan Diambil Darahnya untuk Ritual Kecantikan

Wanita bangsawan Hungaria yang tercatat sebagai pembunuh dengan korban terbanyak. (Ist)
Wanita bangsawan Hungaria yang tercatat sebagai pembunuh dengan korban terbanyak. (Ist)

PASURUANTIMES, MALANG – Sejarah kerap mencatat bahwa manusia mampu lebih kejam daripada hewan buas sekalipun. Kekejaman manusia di berbagai belahan dunia sering di luar nalar dan kemanusiaan, seperti yang dilakukan  Elizabeth Báthory de Ecsed (1560-1614 M), seorang bangsawan dari Kerajaan Hungaria kelahiran Transylvania.

Satu kampung dengan sang Vlad Dracula yang duluan terkenal dengan kekejamannya yang mengerikan, Elizabeth mencatatkan dirinya sebagai wanita terkejam sepanjang sejarah. Bahkan, dirinya masuk dalam Guinness Book of Records sebagai wanita pembunuh dengan korban terbanyak. Tercatat, sepupu Stefan Báthory, raja Polandia, ini telah menyiksa dan membunuh sekitar 650 perawan dengan cara sangat kejam.

Elizabeth, sang pemuja kecantikan dan dirasuki ajaran setan, melakukan ritual awet muda dengan cara mandi darah perawan. Caranya membuka lowongan kerja (loker) bagi para perawan desa di wilayahnya.

Para perawan lugu, yang tertipu karena silsilah Elizabeth sebagai anggota kerajaan dan orang paling kaya di wilayahnya, serupa domba yang digiring ke tempat penjagalan. Mereka disiksa dengan cara disayat nadi tangannya di sebuah bak mandi sampai darahnya habis. Kubangan darah para perawan inilah yang dijadikan air mandi Elizabeth.

Bahkan, dengan kekejamannya, Elizabeth The Blood Countess berendam dalam darah di saat para perawan sekarat kehabisan darah. Dirinya juga dengan buasnya menyiksa para korban dengan berbagai cara kejam di luar kemanusiaan. Mencambuk, mutilasi, meminum sampai dengan santainya melihat para korbannya mengerang sekarat.

Elizabeth percaya bahwa dengan mandi darah perawan, dirinya akan awet muda. Kecantikannya tidak akan dimakan usia. Melaluinya juga, Elizabeth merasakan kepuasan seksual aneh.

Dari beberapa literatur, kekejian istri Count Ferenc Nádasdy, yang dikenal dengan keberaniannya dalam peperangan melawan Turki Usmani (Ottoman Empire) dan diberi gelar 'Black Hero of Hungary' itu, dimulai saat dirinya kesepian karena kerap ditinggal sang suami yang kerap berada di medan perang.


Elizabeth yang masih muda akhirnya tergelincir dalam berbagai perselingkuhan dengan banyak lelaki. Kebiasaannya menjadi penyakit akut. Dirinya menjadi hamba seks yang sangat parah. Bahkan, dirinya juga menjadi lesbi dalam petualangan seksnya.

Kebiasaan memuja kecantikan dirinya sendiri juga menjadi pintu Elizabeth berkenalan dengan ajaran setan karena pengaruh pelayan terdekatnya bernama Dorothea Szentes, biasa disebut Dorka. Dari Dorka inilah, Elizabeth mulai menyenangi kepuasan seksual lewat penyiksaan yang dilakukannya terhadap pelayan-pelayan lainnya yang masih muda. 

Selain Dorka, Elizabeth dibantu beberapa pelayan terdekatnya, yaitu suster Iloona Joo, pelayan pria Johaness Ujvari, dan seorang pelayan wanita bernama Anna Darvula, yang merangkap sebagai kekasih Elizabeth.

Babak baru kekejaman anak dari pasangan Georges dan Anna Báthory, yang merupakan bangsawan kaya raya dan salah satu keluarga bangsawan paling kaya di Hungaria saat itu, dimulai sejak usianya menginjak 40 tahun. Sebuah insiden kecil terjadi saat seorang pelayaan wanita yang sedang menyisir rambutnya secara tidak sengaja menarik rambut Elizabeth terlalu keras. Elizabeth yang marah kemudian menampar gadis malang tersebut. Darah memancar dari hidung gadis itu dan mengenai telapak tangan Elizabeth.

Saat itu Elizabeth yang telah jadi penganut setan 'menduga dan percaya' bahwa darah gadis muda memancarkan cahaya kemudaan mereka. Serta merta dia memerintahkan pelayannya, Johannes Ujvari dan Dorka, menelanjangi gadis tersebut. Gadis itu ditarik ke atas bak mandi dan dipotong urat nadinya. Ketika si gadis meninggal kehabisan darah, Elizabeth segera masuk kedalam bak mandi dan berendam dalam kubangan darah. Dia menemukan apa yang diyakininya sebagai 'Rahasia Awet Muda'.

Sejak itulah, Elizabeth mengubah Ustana Cachtice kediamannya menjadi pusat teror dan penyiksaan seksual. Alibinya, membutuhkan pelayan di istananya dan membuka loker serta mengundang para korban dengan dalih diajari tata krama dan kesopanan bangsawan. Ratusan perawan tertipu dan jadi korban kekejian Elizabeth yang memuja kecantikan dan kemudaan lewat ritual setan.

Elozabeth the Blood Countess dari Hungaria (Ist)

 

Nafsu setannya menjadi-jadi. Setelah merasa darah para perawan tidak lagi membuatnya senang karena merasa kurang berkualitas, Elizabeth mulai melirik gadis-gadis bangsawan untuk mendapatkan darah yang berkualitas. Dia pun mulai melakukan penculikan demi penculikan untuk mendapatkan korbannya. 

Operasinya tersebut akhirnya mengundang kecurigaan para bangsawan lain yang kehilangan putrinya. Akhirnya, 30 Desember 1610, raja Hungaria yang merupakan sepupu Elizabeth pun mengirim pasukannya di bawah pimpinan György Thurzó.

Kelakuan Elizabeth yang aneh telah tersebar luas. Sehingga pasukan yang telah mengantongi data langsung  menyerbu Istana ?achtice di malam hari. Di istana itulah, pasukan raja terkejut luar biasa melihat pemandangan yang mereka lihat. Mayat seorang gadis yang pucat kehabisan darah tergeletak di atas meja makan. Seorang lainnya yang masih hidup namun sekarat ditemukan terikat di tiang dengan kedua urat nadinya disayat hingga meneteskan darah. Di bagian penjara ditemukan belasan gadis yang sedang ditahan menunggu giliran dibunuh. Kemudian di ruang basement ditemukan lebih dari 50 mayat yang sebagian besar sudah mulai membusuk.

Penemuan tersebut yang akhirnya menggiring Elizabeth dikurung dalam kamarnya seumur hidup. Seluruh pintu dan jendela kamar tahanannya ditembak. Hanya ada lubang kecil untuk memasukkan makanan dan minuman yang ada dikamar tahanannya. Sedangkan empat pelayannya diadili dan dihukum mati oleh pengadilan.

Hanya 4 tahun, yaitu tahun 1614, Elizabeth ditemukan tewas di ruang isolasinya. Wajahnya tertelungkup dengan wajah di lantai. Usianya saat itu sekitar 54 tahun. (*)

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pasuruantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pasuruantimes.com | marketing[at]pasuruantimes.com
Top