Tersangka Baru Korupsi Ditentukan di Persidangan Wali Kota Pasuruan Setiyono

Wali Kota Setiyono ketika menjadi saksi atas terdakwa M Baqir.
Wali Kota Setiyono ketika menjadi saksi atas terdakwa M Baqir.

PASURUANTIMES – Babak baru pengungkapan dugaan korupsi yang melibatkan Wali Kota Pasuruan nonaktif, Setiyono, bakal terbuka lebar. 

Setelah memeriksa 107 saksi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melimpahkan berkas perkara ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Surabaya.

Calon tersangka baru dugaan korupsi proyek di Kota Pasuruan juga berpotensi terjadi dari pengakuan tiga orang terdakwa yang segera di sidangkan. 

Kemungkinan ini merunut peran aktif sejumlah pihak yang mengatur ploting paket proyek 2018 dan dua tahun sebelumnya.

“Pengembangan penyidikan tergantung dari hasil persidangan Wali Kota Setiyono. Lihat saja nanti di (persidangan) Pak Setiyono,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Kiki Achmad Yani.

Saat ini pihaknya masih fokus pada pemeriksaan dugaan korupsi proyek PLUT. Jika unsur-unsurnya terpenuhi, pengembangan perkara bisa dilanjutkan pada proyek-proyek lain di tahun 2018 termasuk pada pelaksanaan proyek tahun 2017.

Berdasar fakta persidangan, pengaturan dan ploting paket proyek diperankan Edi Trisulo Yudho, yang tak lain adalah adik Setiyono. 

Edi Trisulo yang saat ini menjabat Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pasuruan bahkan oleh penyidik KPK disebut sebagai Wali Kota 2.

Pada proses penyidikan, dua orang rekanan juga telah mengembalikan uang gratifikasi dari proyek lain di Kota Pasuruan. 

Kedua rekanan tersebut yakni Andi Wiyono, Direktur CV Nita Konstruksi menitipkan barang bukti sebesar Rp 300 juta dan Wongso Kusumo, Direktur CV Sinar Perdana sebesar Rp 200 juta.

Pengembalian uang gratifikasi juga dilakukan Nyoman Swasti, Kepala Badan Layanan Pengadaan (BLP) Kota Pasuruan sebesar Rp 50 juta. 

Ia mendapat imbalan setelah memuluskan proses pelelangan proyek yang masuk dalam plotingan.

Anak buah Nyoman, Wakhfudi Hidayat, Kasubag Pengendalian BLP turut mengembalikan Rp 5 juta. 

Sedangkan Herlindra Kresnadi alias Hendro, staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan mencicil dua kali pengembalian sebesar Rp 900.000 dan Rp 1,7 juta.

Pewarta : Arisandi Pasuruantimes
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Pasuruan TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pasuruantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pasuruantimes.com | marketing[at]pasuruantimes.com
Top