Obsesi PT Kapiten Gagal Manfaatkan Booming Brand Kopi Kapiten Jadi Merek Dagang, Ini Solusi Pemkab Pasuruan

Kantor PT Kapiten yang berhias logo Kopi Kapiten.
Kantor PT Kapiten yang berhias logo Kopi Kapiten.

PASURUANTIMES – Kegagalan PT Kapiten Jaya Abadi mendapatkan sertifikat merek dagang Kopi Kapiten, kopi asli Kabupaten Pasuruan, menjadi kegaduhan publik. Badan usaha swasta yang berbasis di Gempol ini berobsesi memproduksi secara masal kopi dengan merek dagang Kopi Kapiten yang sejak 2015 di-launching Pemkab Pasuruan sebagai label atau brand yang menaungi produksi kopi UKMK.

Brand Kopi Kapiten yang berlogo bupati Pasuruan mengenakan topi ala kapiten ini merupakan penanda atau label yang ditempel pada kemasan kopi produksi UMKM dan kelompok tani yang telah dipasarkan sebelum Pemkab Pasuruan me-launching ke publik. Dengan tambahan label Kopi Kapiten, konsumen akan lebih mengenali kopi, di antaranya dengan merek dagang Joss Kopi, Ledug dan Arjuno Semar, sebagai kopi produksi Kabupaten Pasuruan.

Gagasan membentuk badan usaha PT Kapiten Jaya Abadi bermula dari sejumlah teman dekat Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf. Mereka dikenal sebagai salah satu kelompok penyokong pada pencalonan Irsyad Yusuf dalam pemilihan bupati Pasuruan tahun 2013 lalu. 

Sebagai kelompok pengusaha mapan dan memiliki insting bisnis, teman dekat bupati Pasuruan melihat peluang bisnis yang tampak gamblang didepan mata. Brand Kopi Kapiten yang terus dipromosikan Pemkab Pasuruan melalui pameran dagang, promosi dan periklanan yang menelan anggaran APBD miliaran rupiah menjadi modal awal bagi usaha produksi kopi dengan merek dagang Kopi Kapiten.

Pada 2 Oktober 2018, PT Kapiten Jaya Abadi yang didirikan enam orang mendapat pengesahan pendirian badan hukum perseroan terbatas dari Kementerian Hukum dan HAM. Dengan modal disetor Rp 1 miliar dan modal ditempatkan Rp 300 juta, Direktur Utama PT Kapiten dipercayakan kepada Sunaryo. Tiga hari kemudian, 5 Oktober 2018, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Kabupaten Pasuruan mengeluarkan tanda daftar lerusahaan PT Kapiten sebagai industri pengolahan kopi.

"Ini bisa menjadi usaha setelah Gus Irsyad pensiun sebagai bupati Pasuruan. Kami membuat PT Kapiten, membeli kopi rakyat dan membeli mesin produksi. Tapi modal pembelian ini dari kami sendiri. Gus Irsyad tidak ikut-ikut," kata Mas'ud, direktur PT Kapiten Jaya Abadi.

Sembari mengurus perizinan hak merek di Jakarta, kata Mas'ud, pihaknya telah menjajal mesin yang dibelinya dengan memproduksi kopi bermerek dagang Kopi Kapiten. Kemasan sachet kopi bermerek Kopi Kapiten yang telah dibagi-bagikan pada beberapa kegiatan di Pemkab Pasuruan ini mendapat respons positif dari penikmat kopi. 

Namun sayang, investasi besar ini tidak sejalan dengan obsesi dan peluang bisnis yang diimpikan. Manajemen PT Kapiten mendapat informasi jika merek Kapiten telah dimiliki pengusaha asal Pati, Jawa Tengah. Atas informasi tersebut, manajemen PT Kapiten putus asa dan menghentikan produksi kopi dan upaya mendapatkan legalitas produksi hak paten merek dagang Kopi kapiten. 

Manajemen PT Kapiten Jaya Abadi tidak memahami jika sebenarnya hak paten Kopi Kapiten tersebut telah dimiliki Perkumpulan Petani Kopi Indonesia (Apeki) Kabupaten Pasuruan pada 28 Desember 2016. Sertifikat merek yang berlaku hingga 28 Oktober 2026 dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM ini bukan untuk kegiatan produksi dan pengolahan produk kopi. 

Sertifikat merek hanya menguraikan sebatas pada jasa periklanan, penyebaran bahan iklan, nasehat untuk konsumen, penyelenggaraan pameran untuk tujuan niaga, bantuan komersial, penyewaan iklan tayang pada media komunikasi, penataan etalase toko dan kafe.

Menyikapi pro kontra kegagalan PT Kapiten mendapatkan merek dagang Kopi Kapiten dan kegiatan promosi Pemkab Pasuruan yang gencar dilakukan, Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf memberikan klarifikasi. Menurut dia, branding dan promosi yang dilakukan selama ini tidak ada kaitannya dengan produksi kopi yang rencananya diproduksi masal oleh PT Kapiten.

"Kalau yang kami lakukan selama ini, promosi dan branding Kopi Kapiten itu memang murni untuk mempromosikan kopi produksi petani kopi di Kabupaten Pasuruan. Promosi dan pameran kopi ini diharapkan agar produksinya semakin dikenal di Indonesia dan manca negara," kata Gus Irsyad kepada wartawan.

Dijelaskan, Pemkab Pasuruan tidak ada kaitannya dengan pendirian PT Kapiten tersebut. Namun pihaknya mempersilakan jika ada pihak swasta yang memiliki keinginan untuk memproduksi kopi secara masal. Syaratnya, bahan kopi untuk produksi masal tersebut dibeli dari hasil panen petani Kabupaten Pasuruan.  

"Saya merasa tambah senang ada pengusaha yang mau memproduksi kopi Pasuruan. Yang penting menggunakan bahan baku dari petani kopi Pasuruan," tandas Gus Irsyad.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan Ihwan menyatakan, upaya branding Kopi Kapiten sebagai kopi asli Kabupaten Pasuruan sudah dilakukan secara maksimal. Menurut dia,  label branding Kopi Kapiten tersebut tidak menghilangkan merek dagang kopi yang diproduksi petani Kabupaten Pasuruan.

"Brand Kopi Kapiten di atas produk kopi produksi petani hanya sebatas mengenalkan bahwa produk tersebut berasal dari Kabupaten Pasuruan. Petani kopi tetap bisa memproduksi dengan merek dagang masing-masing," kata Ihwan.

Pihaknya mengklarifikasi bahwa merek dagang Kapiten yang telah dimiliki pengusaha dari Pati, Jawa Tengah, tersebut bukan untuk produksi kopi, melainkan produk beras ketan. Sehingga petani atau badan usaha di Kabupaten Pasuruan masih berpeluang mendapatkan merek dagang Kopi Kapiten.

Menurut Ihwan, sertifikat merek Kopi Kapiten sudah didapatkan Asosiasi Petani Kopi (Apeki) Kabupaten Pasuruan pada tahun 2016. Sertifikat merek tersebut peruntukannya hanya sebatas usaha periklanan, promosi dan pameran. Jika untuk mendapatkan sertifikat merek dagang, Apeki harus meningkatkannya pada grade produksi.

"Hak paten Kopi Kapiten sudah milik Apeki Kabupaten Pasuruan. Hak paten ini bisa ditingkatkan dari yang selama ini untuk kegiatan promosi menjadi kegiatan produksi dan merek dagang," tandasnya.

Pihaknya akan memfasilitasi PT Kapiten Jaya Abadi yang bermaksud memproduksi masal produk Kopi Kapiten. Tentu saja, badan usaha swasta ini harus bekerja sama dengan Apeki Kabupaten Pasuruan yang sudah memiliki hak paten Kopi Kapiten.

"PT Kapiten harus membuat MoU dengan Apeki untuk bisa memproduksi kopi dengan merek dagang Kopi Kapiten. Jika tidak ada kerjasama, mereka juga bisa mengajukan hak paten sendiri, asal tidak memiliki kemiripan nama dan logo dengan Kopi Kapiten," jelas Ihwan.

Pewarta : Arisandi Pasuruantimes
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Pasuruan TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pasuruantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pasuruantimes.com | marketing[at]pasuruantimes.com
Top