Geger Kopi Kapiten, Dewan Telusuri Pengusaha Asal Gempol Penyerobot Brand Kopi Kapiten

Rapat kerja Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan.
Rapat kerja Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan.

PASURUANTIMES – Polemik kegagalan PT Kapiten Jaya Abadi, produsen kopi asal Gempol mendapatkan hak paten merek dagang Kopi Kapiten masih berlanjut. Kalangan dewan mempertanyakan siapa pemilik badan usaha yang menyerobot brand Kopi Kapiten untuk diproduksi secara masal.

“Brand Kopi Kapiten dipromosikan Pemkab Pasuruan untuk mengenalkan kopi lokal yang memiliki beragam merek dagang, seperti kopi joss, kopi ledug. Tiba-tiba muncul pengusaha yang memproduksi masal Kopi Kapiten, ini perusahaan siapa?” kata anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Rohani Siswanto saat rapat dengar pendapat dengan mitra kerjanya.

Menurut Rohani, tidak sembarang orang bisa dengan mudah memproduksi masal kopi dengan merek dagang Kopi Kapiten. Harus diawali dengan MoU dengan Pemkab Pasuruan atau kelompok tani APEKI yang telah memiliki hak paten brand Kopi Kapiten.

“Kami fine-fine saja, jika perusahaan yang akan memproduksi masal kopi dengan merek dagang Kopi Kapiten adalah BUMD. Tapi kalau pihak swasta, siapa mereka itu?” tandasnya.

Kasus ini mencuat karena setelah sekelompok ‘teman dekat’ Bupati Pasuruan mendirikan PT Kapiten Jaya Abadi untuk memproduksi kopi dengan merek dagang Kopi Kapiten. Mereka memanfaatkan peluang besar bisnis tanpa harus mengeluarkan anggaran promosi produk Kopi Kapiten. Apes, saat mengurus hak paten merek dagang Kopi Kapiten, mereka gagal mendapatkannya.

Saat ini brand Kopi Kapiten sudah menggaung di dunia perkopian nusantara. Karena sejak 2015, Bupati Pasuruan telah melaunching brand Kopi Kapiten, kopi asli Kabupaten Pasuruan. Brand Kopi Kapiten yang gencar dipromosikan Pemkab Pasuruan dengan anggaran miliaran rupiah ini hanya untuk menaungi kopi lokal yang diproduksi kelompok tani dan UMKM di Kabupaten Pasuruan.

“Brand Kopi Kapiten itu hanya untuk melabeli kopi-kopi lokal produksi Kabupaten Pasuruan. Ada tiga produk kopi lokal yang sudah mendapatkan hak paten, yakni Kopi Joss, Kopi Ledug dan Kopi Arjuna Semar. Brand Kopi Kapiten hanya ditempel diatas merek kopi lokal tersebut,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan, Ihwan.

Soal siapa pemilik PT Kapiten Jaya Abadi yang sudah memproduksi kopi dengan merek dagang Kopi Kapiten, Ihwan mengaku tidak tahu menahu. Ia tak berkompenten menjawab pertanyaan tersebut. Namun pihaknya siap memfasilitasi jika badan usaha swasta tersebut mau melakukan kerjasama produksi kopi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan, Edi Suwanto menyatakan hal senada. Ia hanya bisa menjawab seputar program Kopi Kapiten yang digalakkan Pemkab Pasuruan. Namun ia angkat tangan jika harus menjawab siapa dibalik pengusaha asal Gempol yang memproduksi Kopi Kapiten.

“Kami hanya bisa menjelaskan program Kopi Kapiten, kalau sudah bergeser ke siapa pemilik perusahaannya, silahkan tanya ke Dinas Perijinan. Apakah sudah ada dokumen perijinannya,” kata Edi Suwanto.

Menurut Edi, siapapun yang memproduksi kopi lokal, bisa mendapatkan atau menempelkan capil (label) brand Kopi Kapiten. Tetapi kalau memproduksi dengan merek dagang Kopi Kapiten harus dilegalisasi.

“Kalau perusahaan itu memproduksi kopi merek Kopi Gempol, ndak persoalan, ia bisa mendapatkan capil Kopi Kapiten,” jelas Edi.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Andri Wahyudi, mengingatkan bahwa branding Kopi Kapiten yang sudah mendunia jangan sampai dimanfaatkan kelompok kapitalis untuk kepentingan bisnis. Brand Kopi Kapiten harus diperuntukkan bagi kelompok tani atau UMKM yang memproduksi kopi asli Kabupaten Pasuruan.

Menurut Andri, kelompok kapital yang memproduksi masal Kopi Kapiten tidak akan diketahui asal muasal bahan baku kopi tersebut. Jikapun ada kerjasama, harus ada MoU yang mengatur secara detil. Sehingga produksi kopi petani bisa tersalur secara baik.

“Branding Kopi Kapiten jangan sampai diambil kelompok kapitalis yang memanfaatkan situasi. Branding Kopi Kapiten yang mendunia, harus untuk kepentingan kelompok tani,” tegas Andri Wahyudi.

Pewarta : Arisandi Pasuruantimes
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Pasuruan TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pasuruantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pasuruantimes.com | marketing[at]pasuruantimes.com
Top