Indar dan ibunya menunjukkan dokumen akta kelahiran. (Foto: Arishandi)

Indar dan ibunya menunjukkan dokumen akta kelahiran. (Foto: Arishandi)


Pewarta

Arishandi

Editor

A Yahya


Mendengar nama Khofifah Indar Parawansa, terbayang sosok perempuan tangguh Ketua Umum Muslimat dan mantan menteri RI. Nama Khofifah ini makin melambung setelah ia mencalonkan diri sebagai  Gubernur Jatim untuk ketiga kalinya.

Namun berbeda dengan Khofifah Indar Parawansa (18) warga Jl Halmahera, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Remaja yang beranjak dewasa ini protolan sekolah dasar dan hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SD. Hari-harinya disibukkan dengan kegiatan membantu ibunya berjualan makanan tahu telor. 

Indar, sapaannya, anak keempat dari pasangan Slamet dan Dewi Aminah. Impian orangtua agar Indar menjadi anak yang pintar, pupus sudah setelah Slamet meninggal saat ia kelas 2 SD. 

Dewi Aminah mengungkapkan, pemberian nama tersebut memang menjadi impian agar kelak Indar yang lahir pada tahun 2000 lalu bisa meniru jejak Khofifah yang kala itu menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan. 

"Saya sempat takut dan khawatir saat ayahnya akan memberikan nama yang sama dengan nama pejabat. Setelah diyakinkan bahwa ia sangat mengagumi Bu Khofifah, akhirnya kami sepakat memberikan nama itu," kata Dewi Aminah.

Dewi yang menyadari gagal mewujudkan impian agar anaknya menjadi pintar, masih terus berharap agar Indar meniru sosok Khofifah. Mulai dari semangat yang pantang menyerah, tangguh dan teguh dalam memperjuangkan kaum perempuan. 

"Allhamdulillah, sekarang dia menjadi anak yang patuh, anak yang kuat dan tangguh. Dia tidak malu dengan kondisi orang tuanya dan berbakti dengan orang tuanya," katanya.

Indar mengaku tidak merasa minder karena meniru nama seorang pejabat. Ia yakin nama yang didapatkannya ini memiliki makna dan arti tersendiri. 

"Teman-teman tidak banyak yang tahu , kalau nama saya sama dengan nama menteri. Saya dikenal hanya bernama Indar. Saya juga tidak minder dan justru bangga dengan nama yang diberikan almarhum ayah," kata Indar.


End of content

No more pages to load