Para petugas gabungan tengah melakukan pemadaman kebakaran lahan dan hutan di Gunung Semeru. (Foto: Dokumen BB TNBTS)
Para petugas gabungan tengah melakukan pemadaman kebakaran lahan dan hutan di Gunung Semeru. (Foto: Dokumen BB TNBTS)

Pemadaman titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area Gunung Semeru masih belum sepenuhnya tuntas. Meski telah berlangsung dua pekan sejak 17 September lalu, pemadaman mengalami kendala terkait lokasi yang sulit dijangkau dan jauhnya letak sumber air. Meski demikian, opsi meminta bantuan water bombing masih belum dipertimbangkan.

Area terdampak karhutla pun masih meluas. Dari awalnya sekitar 20 hektare pada hari ketiga, hingga Minggu (29/9/2019) kemarin, Balai Besar (BB) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mencatat luasan karhutla mencapai 93,3 hektare. Bahkan, data yang berbeda dari BPBD Lumajang menyebut bahwa luas area terdampak mencapai 198 hektare meliputi wilayah Lumajang dan Kabupaten Malang. 

Plt Kepala Subbag Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Balai Besar TNBTS Achmad Arifin mengungkapkan, jumlah titik api yang ditemukan telah mengalami penurunan kuantitas. "Sampai Minggu pagi, masih terdapat satu titik karhut di lokasi Ayek-Ayek, berupa kepulan asap tipis," ujarnya.

Arifin merinci, lokasi karhut merupakan tebing jurang. Jaraknya, kurang lebih 5,5 kilometer dari posko Ranupani. "Dengan medan yang sangat terjal, sehingga tim harus melakukan pengondisian jalur dan berkoordinasi untuk tindakan lebih lanjut," ucapnya. 

Dia menegaskan bahwa prinsip pemadaman dan pengendalian karhut adalah safety first. Yakni mengutamakan keselamatan tim, memadamkan area yang terjangkau, memperhatikan arah dan kecepatan angin, serta pembuatan sekat bakar. "Karena kondisi lingkungan yang tidak datar, arah angin yang berubah, jangan sampai ketika salah perhitungan malah jatuh korban," ujarnya.

Mengenai opsi meminta bantuan water bombing, pihak TNBTS mengaku tidak memiliki kewenangan. "Karena kan yang punya kewenangan itu BPBD. Kami berkoordinasi, memperlihatkan kondisi seperti ini, mereka nanti yang merekomendasi butuh water bombing atau tidak. Untuk saat ini, kami masih menggunakan cara manual, yakni gepyok dan jet shooter," ungkapnya.

Total personel pemadaman yang diturunkan berjumlah 359 orang. Mereka terdiri dari petugas TNBTS, BPBD  Jatim, BPBD Lumajang, Kodim/Koramil Lumajang, Tim Kobra Polres Lumajang, Saver, Pramuka Peduli, Gimbal Alas, Komunitas Porter, Masy Relawan Indonesia ACT, Masy Mitra Polhut, Manggala Agni, Relawan Jagafopta, Tim Evakuasi Mandiri Ranupani, Pasrujambe, Duwet dan warga desa sekitarnya dengan sistem shift.

Arifin merinci titik-titik api yang sudah berhasil dipadamkan. Di antaranya berada di lokasi Gunung Kepolo, Arcopodo, Kelik, Watupecah, Waturejeng, Ayek-Ayek, Pusung Gendero, Ranu Kumbolo, Pangonan Cilik, Oro-Oro Ombo dan Watu Tulis. Sementara  vegetasi yang terbakar didominasi semak-semak dengan kategori kebakaran permukaan. 

"Tim terus melakukan pemantauan. Fokus pemadaman karhut adalah mop-up, yaitu pengendalian sisa api, bara dan asap sehingga dapat benar-benar padam," pungkasnya.